Mari Budayakan Kinerja Tinggi

Silakan Cari Tiket Hotel Kereta Pesawat Event Yang Resmi Di Sini Kerjasama dengan www.tiket.com

Tips Menghadapi Krisis Ekonomi

Share on :
Dua hari berturut turut yaitu tanggal 1 dan 2 Desember 2008 Kompas menurunkan Headline tentang dampak krisis global yang akhirnya menyeret Negara kita ke dalam pusaran krisis yang semakin tidak jelas ujung pangkalnya.
"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan itu namanya resesi,kalau Kita juga kehilangan pekerjaan itu namanya depresi" demikian dikatakan Rhenald Kasali dalam analisis ekonominya diharian yang sama.

Headline itu membuat saya mengurungkan niat untuk mempostingkan UANG RECEH YANG SANGAT PENTING PART III Karena saya berfikir memposting menghadapi krisis ekonomi ini jauh lebih penting mengingat saudara saudara kita yang nasibnya akan tidak beruntung akibat rasionalisasi (PHK) adalah hal paling utama.
Walaupun mungkin saya tidak mampu untuk membantu secara finansial namun paling tidak postingan saya ini akan menjadi "urun rembuk" (ah bahasanya katrok banget) bagi saudara saudaraku yang terkena musibah itu.

Krisis ini telah saya prediksi pada postingan saya beberapa bulan lalu disini dan disini dimana pada saat itu terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia dan kasus subprime mortgage di Amerika.
Menghadapi badai ekonomi yang maha dahsyat ini mari kita coba untuk tidak menyalahkan siapa siapa,sebab energi kita akan terbuang percuma karena krisis ini berskala internasional yang tidak hanya menerpa kita namun juga menimpa raksasa ekonomi semacam China.

Saya masih teringat diwaktu kecil di tahun 70-an bagaimana susahnya hidup kami di kampung dilereng pegunungan kapur utara yang amat tandus dengan makan nasi bulgur ataupun dengan nasi gaplek (ketela pohon dikeringkan) ataupun nasi jagung dan yang paling hebat adalah nasi beras dicampur ketela dengan lauk gereh pethek (ikan asin yang) plus kuluban daun mlanding (petai cina)
Dan saya masih ingat bagimana kalau musim kemarau harus menempuh jalan kaki tanpa alas mencari air untuk minum dan jikalau musim hujan harus menghadapi banjir yang menggelora.

Namun satu hal yang selalu saya ingat,rasanya tidak ada kesedihan di kami kami kala itu walaupun setelah sekian tahun meninggalkan kampung halaman yang kalau teringat betapa menyedihkannya namun semangat untuk maju selalu menggelora di dada.
Rasa kekeluargaan dan kegotongroyongan yang kuat menjadi menu sehari hari,dimana kalau kita memiliki hasil kebun yang walau sedikit,punya gawe yang walaupun sederhana selalu di share ke tetangga sanak saudara dan handai taulan.

Lantas apa yang akan kita lakukan menghadapi krisis ekonomi saat ini,Philosophy diatas mungkin sedikit banyak membantu agar Saudara saudaraku yang saat ini tertimpa musibah rasionalisasi minimal dapat berfikir rasional juga.
Pertama,janganlah merasa sedih berkepanjangan karena ingat anak istri suami menunggu action Anda dalam rangka "mengepulkan asap dapur" yang akibat krisis bisa jadi untuk sementara kepulannya tersendat sendat.
Pertebal keyakinan anda bahwa anda bisa mengatasi ini semua sudah barang tentu dibarengi dengan Doa yang tiada henti henti serta jangan biarkan Emosi menguasi Anda.
Beritahukan posisi anda saat ini kepada keluarga ( Istri/Suami,anak) agar mereka juga bisa mengerti dan memahami untuk tidak berbuat yang kurang produktif.
Kedua,mulailah anda melihat kanan kiri apa yang bisa anda kerjakan serta kesempatan kesempatan apa yang bisa anda manfaatkan yang penting jangan gengsi.

Contoh : bila dikampung anda belum ada yang jualan sayur yang komplet mulailah anda belajar untuk menjadi pedagang sayur yang pepakan (komplit) caranya perhatikan Ibu ibu yang belanja kira kira apa yang selalu dibutuhkan dan diinginkan (dalam bahasa marketing adalah need dan want).
Ternyata Ibu ibu itu butuh Sayur atau bahan lauk yang masih segar dengan harga yang relatif murah misalnya,maka sudah barang tentu Anda musti ke tempat kulakan/belanja Sayur tersebut ke tempat yang tepat dalam hal ini pasar induk sayur mayur (Kalau di Jogja adalah Pasar Giwangan).
Perhatikan para bakul bakul disana dan cari bakul yang bisa memberikan harga murah dan barang masih segar (dalam bahasa Marketingnya adalah Price and Product).
Setelah anda belajar tentang Market (keinginan dan kebutuhan ) serta telah paham tentang Produk dan harga,saatnya Anda berhitung tentang modal caranya adalah kalkulasikan/estimasi pejualan anda kira kira per hari berapa ikat sayur,berapa lempeng ikan asin,berapa bungkus plastik tahu,berapa lonjor tempe dsb kemudian dikalikan dengan harga beli pokok saat anda belanja di pasar induk.
Saran saya modal pokok ini kalau memungkinkan dua kali lipat dari perhitungan modal pokok anda belanja, lebih banyak lebih baik sebab kadang ada yang nakal dengan alasan kurang uang lantas ngebon atau utang.
Modal pokok ini bisa anda dapatkan lewat berbagai cara ( kalau anda tidak memilki) : yaitu pinjam dari Sanak saudara, melego barang barang anda,atau bisa juga dari tabungan anda.
Bisa juga anda dapatkan dari kredit BKK / BPR BKK atau dari Bank,saran saya instrument ini adalah pilihan terakhir sebab mereka akan mengenakan bunga.
Langkah selanjutnya adalah tentukan apakah anda akan keliling atau cukup jualan dirumah saja,namun yang pasti siapkan perangkat untuk jualan dan datanglah/bukalah lebih awal dibanding dengan penjual lama.
Berikan konsumen barang yang bagus,harga yang kompetitif,timing yang lebih awal,senyum yang ramah,pelayanan yang cepat dan memuaskan, mudah mudahan problem anda akan teratasi.

Contoh diatas hanyalah sekedar contoh saja karena apapun yang terjadi Andalah pelakunya,berhasil dan tidak semua ada di pundak Anda,untuk itu tidak ada salahnya Anda Fokus saja dibidang itu dulu dan jangan mudah tergoda untuk mengerjakan lain sebelum usaha anda ini benar benar mantap.

Sudah barang tentu banyak usaha lain yang menjajikan,kalau Anda merasa cocok untuk menjadi pedagang keliling produk produk Consumer ( Mie,Sabun,Shampo dll) lakukan dengan langkah yang sama .
Bisa saja anda ingin membuka warung tenda/angkringan,langkah langkahnya hampir mirip,yaitu cari lokasi ,cari tahu masyarakat sekitar doyan jajan atau tidak kemudian Penetapan Harga dan Penetapan Product.

Ketiga kalau usaha anda itu kurang berhasil atau bahkan tidak berhasil jangan putus asa karena bisa jadi anda tidak cocok di bidang itu.
Mulailah dengan melihat usaha dibidang lain (contoh usaha jasa laundry,tukang cukur,jemputan anak sekolah dll) jangan mudah menyerah dan anda harus beraksi dengan sepenuh hati.
Jika anda sudah mantap dengan usaha yang baru ini jangan lupa anda juga wajib memberikan "urun rembug" terhadap teman teman lama anda yang masih "kecingkrangan" karena membagi Ilmu itu tidak akan mengurangi malah makin membuat Ilmu kita bertambah.

Keempat, bentuklah jaringan dengan kawan tetangga dan siapa saja yang bernasib sama agar bisa saling dukung untuk kemudian membuat suatu koperasi usaha yang dapat dijadikan penopang usaha bersama.
Dalam komunitas ini sebaiknya antar anggota satu dengan yang lain memiliki usaha yang berbeda,akan lebih baik jika ada usaha hulu ada usaha hilir maksudnya adalah jika anda yang menjadi salesman krupuk maka sebaiknya dalam komunitas itu ada pengrajin krupuknya,ada pedagang bahan baku krupuknya,sehingga tingkat produktifitasnya terjamin.

Mudah mudahan tips ini dapat memberikan semangat baru buat Anda saudara saudaraku yang tertimpa musibah rasionalisasi ,dan selalu "Budayakan Kinerja Tinggi"

9 comments on Tips Menghadapi Krisis Ekonomi :

infogue said... 11:13 PM

Promosikan artikel anda di www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur http://www.infogue.com/info/cinema/& http://www.infogue.com/game_online & http://www.infogue.com/kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/tips_menghadapi_krisis_ekonomi

marsudiyanto said... 4:21 AM

Tulisan yang sangat bagus. Semoga banyak yang membaca dan terinspirasi.
Sukses terus buat Salesman Jogja

Yari NK said... 2:22 AM

Lah... wong pusat krisisnya di Amerika sana tetapi yang kena efeknya lebih dahsyat daripada yang di pusat.

Yah, beginilah jikalau sektor ekonomi riil sebuah negara sangat lemah.....

sawali tuhusetya said... 8:57 AM

duh, kok tiba2 saja saya jadi inget desa kelahiran, mas. sekitar tahun 70-an memang bener2 masa paceklik. thiwul saja saat itu sdh menjadi makanan mewah. alhamdulillah, rata2 taraf hidup mereka sdh mulai membaik. semoga saja krisis global itu ndak sampai berdampak parah di kampung kita.

elly.s said... 5:10 PM

Syukur banget mampir kesini...
saya jadi diingatkan..bagaimana susahnya kehidupan Ibuku di palembang...

arggh..walaw Ibu bekerja n selalu dikirimi sama anak2nya tapi ibu juga selalu mengeluh tentang harga2 yg menggila....

Setelah insyaf akan nilai uang receh...sekarang aq diingatkan kembali untuk berhemat, menabung dan berusaha.

Disini aq terima pesenan makanan n kue2 dari temen2...tapi kadang kalo lg males n capek aq tolak..hiks...
padahal dari sudut ekonomi nggak bagus ituh ya...

Komunitas Sales & Marketing Jogjakarta said... 5:59 AM

Terimakasih :

1.Infogue : yang memberi kesempatan saya untuk mempromosikan tulisan Saya.( Jadi Malu Sendiri Nih Sayanya)
2.Pak Mar yang kali ini Komentnya serius.
3.Mas Yari Sudi memberi Komentar
4.Mas Sawali yang enggak bosan bosannya mampir ke Blog ini.
5.Mbak Elly : Yang juga enggak bosan mampir disini .
Sekali lagi terimakasih.

eblo said... 3:50 AM

Mantaps bisa gua praktekin...makasih om tipsnya

Medicine Alternative - Herbal said... 3:52 AM

Langsung kabur...ane kagak tahu tulisan ente

Song Nomination said... 3:54 AM

Balik ndeso aja ah...aku mau jualan bakso saja