Mari Budayakan Kinerja Tinggi

Silakan Cari Tiket Hotel Kereta Pesawat Event Yang Resmi Di Sini Kerjasama dengan www.tiket.com

Stretching

Share on :
Customer satisfaction sering kita dengar dari berbagai seminar seminar pemasaran ataupun dari buku buku Marketing yang jumlahnya dari hari hari tambah berjibun.

Dikantorpun kadang slogan slogan itu sering kita jumpai dalam Board Visi Misi yang dengan mentereng terpampang dan gagahnya seolah olah menjadi cermin bahwa kegiatan kantor itu seindah kata kata yang terukir.

Namun mari kita dalami benarkah slogan slogan yang berorientasi Customer satisfaction itu telah menjadi urat nadi sebagian atau seluruh kegiatan di kantor tersebut.

Pengalaman (Red: ini hanya pengalaman pribadi ) menunjukan bahwa slogan slogan itu banyak yang hanya tulisan indah yang belum mempunyai banyak makna sebagai pedoman kegiatan yang seharusnya dan selayaknya dilakukan oleh individu maupun organisasi dalam menjalankan rutinitas sehari hari.

Suatu hari penulis datang ke sebuah perusahaan Distribusi Nasional yang bergerak dibidang Consumer Good dan Consumer Health .
Perusahaan itu telah menggunakan system ERP yang terbaru dan tercanggih yang mana telah digunakan dibanyak perusahaan dan yang pasti programnya dibeli dengan harga yang sangat mahal ,sungguh mulia tujuan Perusahaan itu .
Dengan harapan setelah Program ERP yang canggih telah terinstal di semua Komputer maka diharapkan output pelayanan jasa distribusi yang tadinya manual akan lebih baik.
Namun yang terjadi justru sebaliknya , delivery terlambat ,data penjualan kacau ,komunikasi antar bagian terhambat dan banyak pekerjaan terbengkelai.

Banyak contoh yang barangkali pembaca pernah menemui suatu perusahaan atau institusi yang antara Visi dan Misi bertolak belakang dengan pelayanan yang kita harapkan.

Kalau sudah begini banyak pihak tidak mau di persalahkan , masing masing bagian atau departemen mempertahankan diri dengan argumentasi yang barangkali benar barangkali setengah benar atau hanya karena gengsi walaupun nyata nyata salah mengaku sangat benar.

Menjadi pertanyaan kita semua mengapa bisa terjadi output yang diharapkan tidak sesuai …?

Barangkali contoh yang lain ini akan lebih membuat jelas duduk persoalan kenapa suatu Misi Visi tidak bisa berjalan dengan baik .

Suatu hari sebuah rumah sakit di Kota A menelephone kantor distributor B yang mendistribusikan Obat C obat yang sangat dibutuhkan mengingat termasuk katagori Obat life Saving.
Sementara itu hari sudah petang dan kebetulan sabtu banyak karyawan yang sudah tidak berada di kantor maupun di gudang .
Rumah sakit sebenarnya sudah memiliki cadangan stock namun karena terjadi wabah penyakit sehingga tidak cukup untuk pasien pasien yang lain.
Apotik apotik di Kota A dan kota tetangga terdekat sudah dihubungi namun hasilnya nihil mengingat produk C begitu diburu oleh pasien dan diborong habis oleh rumah sakit yang lain.
Telephone kantor Distributor B berdering ,namun hanya Petugas Satpam yang mengangkat dan di jawab dengan tegas bahwa Kantor Sudah tutup tidak melayani pembelian lagi.
Karena tidak ada obat yang dibutuhkan keesokan harinya 3 pasien yang terkena wabah itu meninggal.

Gemparlah kota A dengan kejadian itu Koran koran lokal memberitakan dengan seenaknya tentang kejadian meninggalnya pasien itu dengan sangat dramatis.

Mari kita bahas meninggalnya pasien dengan tidak adanya Produk Obat C dari sisi
Rumah sakit dan dari sisi Penyedia Obat.

1.Mengapa Rumah sakit tidak jauh jauh hari mempersiapkan stok dengan maksimal..?
2.Mengapa Distributor obat tidak mau melayani pembelian….?


Jawaban yang kita dapat biasanya sangat klasik Rumah sakit tidak cukup Dana untuk melakukan Stock .
Benarkah memang demikian adanya ? jangan jangan itu hanya untuk menutupi kedok saja.
Kalau memang benar benar tidak cukup dana bukankah dapat di upayakan dengan cara lain.Kontrak kerjasama dengan pihak ketiga misalnya.
Bisa dengan distributor ,Apotik,penyandang dana pemerintah setempat atau bisa dengan Rumah sakit yang lain.
Bentuk kerjasamanya bagaimana ..? tergantung apakah bagi hasil atau Share.
Siapa yang mengerjakan ini semua…? Sudah pasti individu oragnisasi di Rumah sakit itu.
Yang kemudian menjadi pertanyaan sudah siapkah Individu individu di Rumah Sakit itu untuk mengoptimalkan pelayanan dengan cara berfikir cara bekerja yang bisa jadi lain dari kebiasaan.

Untuk Distributor mengapa sampai tidak mau melayani pembelian obat dari Rumah sakit .
Jawabnya jelas sudah tidak ada karyawan yang berada di kantor , namun kalau ditilik dari sisi bisnis ,bukankah Order sudah di depan mata ,keuntungan jelas sudah berada di tangan mengapa harus terlepas…?
Di Kantor distributor itu sudah pasti terdiri dari individu individu ,menjadi pertanyaan sudah siapkah mereka dengan cara bisnis yang lebih sedikit agresif.

Andai saja individu individu yang bekerja di Rumah sakit dan Distributor mampu berpikir dan bekerja dengan sedikit keluar dari Pakem dengan mengacu pada obyektif atau tujuan atau istilah kerennya adalah Thinking Outside The Box maka
- Pasien Akan tertolong ( Rumah Sakit)
- Penjualan akan meningkat ( Distributor)

Lalu bagaimana caranya agar Team ,Organisasi,Individu mampu berfikir dan bertindak dengan cara Thinking Outside The Box …?

Ilustrasi Video Berikut barangkali dapat sedikit menjawab pertanyaan tersebut.




1 comments:

Mr Free said... 3:55 AM

Just Link