Mari Budayakan Kinerja Tinggi

Silakan Cari Tiket Hotel Kereta Pesawat Event Yang Resmi Di Sini Kerjasama dengan www.tiket.com

Thinking Acting Outside The Box

Share on :
Kompetisi yang keras memperebutkan pangsa pasar secara keseluruhan yang tumbuh kurang dari 5% (INILAH.COM),beragamnya pilihan produk sejenis (me too) dari hari ke hari semakin deras tak terbendung,bargaining position yang tidak imbang antara Pemasok ( Pemasar) dengan Pemilik Gerai (Toko/Outlet) yang lebih berat ke Pemilik Gerai menjadikan Pemasar dalam hal ini adalah wakil atau bahkan Principal itu sendiri menjadi pusing tujuh keliling.

Kondisi diatas belum lagi di bumbui dengan biaya biaya belanja Iklan yang dari hari ke hari membumbung tinggi
Barangkali buat Pemasar yang tumbuh dengan proteksi akan segera kelimpungan dan sesegera mungkin gulung tikar atau mungkin yang sedikit lebih maju melakukan merger dan bisa jadi minta di akuisisi oleh kompetitornya.

Melihat potensi pasar terbuka luas dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta harusnya banyak perusahaan adalah Perusahaan yang masih bisa di tumbuh kembangkan dengan Size Bisnis yang lebih besar lagi.
Hanya sayang kadang karena terlena dengan kesuksesan serta pakem lama yang seolah itu adalah harga mati atau mungkin karena tidak mau belajar dari kondisi serta situasi menyebabkan bisnis mengalami stagnasi dan bahkan turun.

Diperlukan langkah langkah strategis cerdas dan inovatif yang brilian serta sesegera mungkin untuk mengatasi ini semua.
Diperlukan cara cara kerja baru cara cara berpikir baru yang mengarah pada sisi positip pada neraca pertumbuhan bisnis.
Mungkin saja cara cara tersebut bertabrakan dengan cara lama namun sepanjang bahwa arah atau tujuan serta goal menjadi jelas prediktif terukur serta menjunjung kode etik berbisnis alangkah indahnya cara cara baru tersebut dijalankan.

Thinking Acting Outside The Box dalam khasanah berfikir dan bertindak keluar dari framework lama yang mengarah pada perbaikan kinerja dan system adalah suatu keharusan dan sesegera mungkin guna mengatasi kebuntuan.

Titik tolak dari bisnis adalah Penjualan atau pelayanan baik berupa barang maupun jasa dimana dalam siklusnya terjadi perputaran .
Didalam penjualan atau pelayanan sudah tentu terkait harga distribusi promosi serta sumber daya manusia yang satu dengan lain terkait erat.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa memberikan share secara significant atas siklus bisnis dalam kerangka mengatasi kebuntuan atau kemunduran dimana cara cara lama barangkali perlu dikaji lagi digantikan dengan cara cara baru dalam kerangka Thinking Acting Outside The Box.
Jawabnya adalah Change atau berubah seperti apa yang di ajarkan oleh Rhenald Khasali dalam bukunya yang terkenal itu,

New Distribusi

Fenomena yang menarik adalah bisnis pulsa dan handphone,dimana tingkat penetrasinya sungguh luar biasa bahkan di desa yang sepi di pucuk gunungpun jual beli pulsa tetap bisnis yang menggairahkan.
Bisa jadi bisnis pulsa ini adalah satu dari sekian fenomena yang ada apalagi komunikasi yang lancar sudah merupakan kebutuhan sehari hari dan tumbuh dari waktu ke waktu lantas bagaimana dengan produk produk yang lain.

Bisnis lain semisal Product Consumer selayaknya dapat belajar dari bisnis pulsa dimana kekuatan utama dari bisnis ini adalah DISTRIBUSI yang merata dan meluas
Coca Cola ,Air Aqua telah membuktikan bahwa kekuatan distribusi telah menjadikan produk ini ada dimana mana dan diterima kalangan manapun.
Eksplorasi distribusi terus menerus konsisten,penambahan numeric outlet,penambahan kwantity order,Merchandising yang konsisten,Wiraniaga yang terlatih dan terjamin menjadi salah kata kunci kesuksesan suatu produk .

Rumusan sederhana yang selayaknya di pakai acuan untuk melakukan distibusi suatu product consumer adalah bilamana dalam suatu komunitas ada 40 atau lebih rumah tangga maka product consumer harusnya dapat di terima.
Lantas bagaimana dengan tingkat social ekonominya, bisa jadi hal ini dapat dipertimbangkan namun apabila product kita ada yang bisa untuk semua level rasanya hal ini tidak akan menjadi penghalang,
Rumusan lain yang barangkali juga bisa kita anut adalah dimana dalam suatu kawasan ada pertumbuhan Perumahan baik yang RS ataupun yang RSS dengan tingkat hunian lebih dari 30 rumah maka sudah dipastikan di sekelilingnya ada tumbuh toko atau warung baru yang biasanya cukup potensial untuk penjualan Produk Consumer ..
Sudah barang tentu dengan eksplorasi baru ini memerlukan ekstra effort dukungan manajemen serta sumber daya yang andal agar dapat terlaksana dengan baik.

Sudah menjadi rahasia umum bila dalam suatu kawasan yang berdekatan ada tumbuh outlet baru maka outlet yang lama akan mengecil sharenya .
Semisal di jalan X ada Outlet A yang menjadi pelanggan kita dimana suatu saat ada pertumbuhan perumahan Y yang memenuhi syarat untuk berdirinya sebuah toko B maka share dari pada Toko A akan tersedot sedikit atau banyak ke Toko B.

Yang menjadi pertanyaan apakah Toko A akan kita tinggalkan atau Toko B yang akan kita Fokuskan jawabnya adalah relative.
Andai saja toko A memang benar benar mengalami penurunan drastis dan toko B tumbuh significant maka sah sah saja kalau focus kerja wiraniaga kita ke Toko B dimana Toko A bisa saja kita serahkan kepada Grosir atau relasi distribusi kita jikalau Load kerja Wiraniaga kita Over.
Namun jika Toko A tidak mengalami penurunan yang drastis maka wajib hukumnya bahwa outlet itu tercoverage.

Keberanian melakukan explorasi ke wilayah wilayah cluster memerlukan persiapan mental dan fisik yang ulet ,berbagai tantangan akan di temui baik secara internal perusahaan maupun dari external.
Namun bila ingin menjadikan bisnis bertumbuh dan berkembang sudah selayaknya dan sesegera mungkin explorasi ke wilayah cluster ini dijalankan.
Sayang sekali banyak yang tidak menyadari ini sehingga lambat laun percepatan pertumbuhan bukan semakin cepat namun mengalami perlambatan dan justru kemunduran yang terjadi.
Thinking Acting Outside The Box sungguh sangat relevan dalam hal ini , dimana sambil mempertahankan Outlet yang ada mencari outlet baru di wilayah cluster yang mengalami pertumbuhan mutlak hukumnya.

New Framework Campaign

Setelah produk tersedia di outlet langkah berikutnya adalah bagaimana agar produk tersebut laku.
Masih teringat dalam benak saya waktu di kampung ketika Lik Warsito menjajakan kerupuk dari satu warung ke warung lain.
Tiap dua hari sekali beliau mengisi lodong lodong yang kosong sambil minta tagihan kerupuk yang dua hari sebelumnya diisi penuh dan itu dilakukan bertahun tahun.
Sungguh konsep sederhana yang beliau terapkan yaitu Lodong kerupuk selalu di tempatkan di bagian muka warung dengan tinggi sekitar satu meter selalu terjaga kebersihannya.
Bukankah ini adalah Konsep Merchandising yang luar biasa hebatnya sehingga kerupuk yang Beliau jajakan selalu dan selalu laku.
Memang benar bahwa kerupuk adalah makanan wajib sebagai lauk pauk sehingga tanpa promosipun akan laku,namun apa jadinya kalau kerupuk itu tidak di tempatkan tidak semestinya namun misalnya tersimpan di kolong rak toko.
Laku tapi akan lebih lama karena konsumen enggan mengambilnya sendiri dan akhirnya melempem sehingga returlah yang terjadi.

Bagaimana relevansinya dengan Product Consumer,sudah semestinya konsep Mechandising sederhana dari Lik Warsito masih sangat sangat relevan dengan kondisi pemasaran product consumer masa kini.
Dengan di bumbui istilah istilah keren Merchandising sangat penting mengingat dengan Merchandising yang baik suatu produk akan tampil dimuka calon konsumen yang seandainya saat itu tidak akan membeli akhirnya tertarik dan paling tidak menimbulkan impresi positip atau bahasa kerennya menimbullkan efek impuls buying.
Sungguh suatu ke niscayaan apabila suatu produk yang sudah jelas jelas mengarah ke product consumer namun tidak ada sentuhan Merchandising yang tepat.

Rata rata Pemasar beranggapan bahwa Merchandising akan menghabiskan waktu menghabiskan biaya padahal tidak selalu benar anggapan itu.
Merchandising dapat dilakukan dengan cara simpel sederhana namun tepat pada sasaran,barangkali pembaca pernah ke Toko Kelontong atau Toko Obat melihat minyak Jafaron Misik Melati dll yang tertata di dalam lemari kaca kecil dengan tulisan fotokopi hitam putih letaknya biasanya di atas etalase atau dekat kasir,itulah Merchandising sederhana namun memiliki nilai strategis yang luar biasa.
Untuk itu kenapa kita tidak melakukan Thinking Acting Outside The Box dengan cara simpel tidak memakan biaya namun berdampak luar biasa seperti Lik Warsito atau Penjual Parfum tersebut.

Campain yang tak kalah penting adalah iklan di TV Radio atau media Cetak wajib hukumnya bagi produk produk consumer .
Namun seiring perkembangan dunia multimedia internet jejaring sosial tidakkah ini kesempatan bagus buat penghematan biaya iklan yang dari hari ke hari pasti membumbung tinggi.
Saya tidak menganjurkan meninggalkan ber iklan di media massa namun justru saya menganjurkan bagaimana kita bisa mensinergikan antara media iklan tradisional dengan dunia internet .

Kenapa saya menganjurkan terjadinya sinergi dalam beriklan antara media tradisional dengan internet barangkali cuplikan dari detikinet.com dapat sedikit memberi ilustrasi :

Negara yang 'menyumbangkan' Facebooker terbanyak ialah Amerika, yang tak ayal menjadi jawara daftar negara dengan pertumbuhan Facebooker terbanyak di dunia.

Disusul dengan Indonesia, di mana bulan Desember pengguna Facebook di Tanah Air sebanyak 13.870.120 dan di bulan Januari naik mencapai angka 15.301.280 user. Ini berarti jumlah Facebooker asal Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 1.431.160 user.
(sumber :
http://www.detikinet.com/read/2010/01/06/104634/1272490/398/facebooker-indonesia-terbanyak-kedua-di-dunia)

15 juta user facebooker bukan angka yang main main,anggap saja yang aktif adalah hanya 30% maka facebooker potensial ada di angka 5 juta luar biasa bukan.
Angka angka itu pasti dari hari ke hari akan naik seiring perkembangan internet yang semakin murah ,gadget yang sedemikian terjangkau dan banyak kemudahan kemudahan lain yang bisa di raih.

Hanya saja rasanya saat ini para Marketer belum bisa memanfaatkannya atau barangkali tidak tahu cara memanfaatkannya,dan bahkan mungkin belum tahu apa apa tentang dunia internet.
Yang diketahui hanya sebatas email untuk kirim surat elektronik,Facebook untuk ber ha ha hi hi dan bersapa ria di internet atau Twitter yang hanya sebatas untuk ber Twit twit,Blog yang sebatas hanya untuk catatan pribadi dan asal posting yang tidak ada manfaatnya ,…..oh sayang sekali kalau begitu.
Padahal kekuatan jejaring sosial di dunia maya ini sungguh dahsyat ingat kasus Prita dan Kasus Bibit Chandra.

Untuk menggugah para Marketer mungkin ilustrasi berikut akan mampu memberikan semangat buat para Marketer Product consumer mencoba Thinking Acting Outside The Box.

1.Andai saja pengguna aktif Facebook (seperti yang sudah saya hitung diatas) adalah 5juta orang dan kita ikut mempromosikan di sidebar maka 5 juta orang akan melihat produk kita.
Pengalaman pibadi menunjukan dari jumlah klik iklan google adsense dilakukan orang di Blog saya adalah sekitar 1,8% - 2%.
Dengan mengacu pada angka klik iklan di Blog saya yang hanya 1,8%-2% maka kemungkinan pengguna Facebook untuk tertarik atau melanjutkan browsing tentang iklan yang kita pasang adalah 90.000 sampai 100.000 orang .Wow angka yang luar biasa bukan…?
Padahal idiom semakin tinggi trafik sebuah situs,blog,toko,supermarket,mall atau apapun yang berkaitan dengan bisnis maka kemungkinan terjadinya transaksi jual beli atau klik iklan akan semakin tinggi pula .

2.Andai saja di suatu perusahaan dengan jumlah karyawan 1000 orang ,dimana 50% nya memiliki akun Facebook,Twitter atau apa saja yang berkaitan dengan jejaring sosial maka ada 500 orang potensial untuk kegiatan Promosi produk kita.
Dari pengamatan pribadi rata rata orang yang memilki akun Facebook memiliki paling sedikit 10 orang teman di luar teman dalam satu perusahaan.
Ini berarti ada 500 orang karyawan plus teman temannya yang di hitung secara matematika adalah 5000 yang dapat kita beri pesan tentang produk kita.
Namun demikian 500 orang karyawan ini harus dilatih untuk memberikan pesan produk kita jangan sampai terlalu vulgar,karena hal ini justru akan menimbulkan efek negative.

Call Scriptnya barangkali seperti ini :

Pesan di dinding/Wall di Faceebook

Ah gue capek seharian nih…Minum (….di isi produk kita ) biar seger kembali.
Kepala Gue pusing nih siapa ya… yang punya (…..di isi produk kita)

Pesan di Message

Anda ke Temen : Prend di tempat kerja lagi ada launching produk A cobain ya
Temen ke Anda : iya tapi sampelnya dulu.
Anda ke Temen : Waduh sayang nih produksinya terbatas ..so sampelnya lon ada
tapi kalau ada pasti elu yang pertama gue kasih.
Temen ke Anda : bener lho..
Anda ke Temen : iya iya…masak sih gue ama elu bohong…
Temen ke Anda : Ok

3.Memanfaatkan figure terkenal agar merekomendasikan produk kita.
Misalnya kita gandeng bintang film sinetron penyanyi pelawak atau siapa saja orang terkenal untuk memberikan testimoni di akun jejaring sosial …dengan metode Whistlist atau pesan singkat atau apapun agar mengangkat produk kita.
Biasanya follower dari figure public ini mencapai puluhan ribu…luar biasa bukan…?padahal followernya adalah follower fanatic…bukankah ini potensi yang OK banget

4.Membuat kontes SEO dengan kata kunci tertentu.
Untuk melakukan ini biasanya kita menggandeng Narablog terkenal yang terus melakukan sounding ke teman temannya para Master SEO dan para newbie follower untuk menyelenggarakan kontes SEO.
Kontes SEO ini secara gampangnya adalah kita memberikan kata kunci target untuk dilombakan siapa yang dapat menjadi nomor 1 di SERP mesin pencari itulah yang menjadi pemenangnya

Misalnya kata kunci : Astaga.com lifestyle on the net,Kampanye Damai Pemilu.
atau kalau untuk perusahaan misalnya bisa seperti ini : Cara Mengatasi Kerontokan Rambut,
Keropos tulang menjadi ancaman di usia senja.dan lain sebagainya.
Dengan kontes SEO ini maka kata kata kunci iklan kita dapat dengan mudah di cari oleh mesin pencari dengan mudah.
Dan akhirnya Web atau blog dapat terkenal dan yang pasti lagi lagi trafik berkualitas tinggi akan mudah didapat.

Empat ilustrasi tersebut saya pikir mampu sedikit menggugah buat para Marketer untuk paling tidak sedikit berpaling dari cara cara konvensional ke cara cara baru yang mana kita bisa bertindak keluar dari pakem namun tetap sinergi dengan cara yang telah ada.
Dengan demikian Thinking Acting Outside The Box bukan meninggalkan cara lama namun lebih mencari kemungkinan kemungkinan cara baru yang lebih prospektif lebih potensial lebih terukur namun dengan biaya murah dan simpel

Selamat Mencoba Sukses di Depan Anda.

3 comments on Thinking Acting Outside The Box :

sawali tuhusetya said... 5:54 AM

di tengah persaingan yang makin kompetitif seperti saat ini memang dibutuhkan terobosan yang lebih cerdas dan inovatif. sayangnya, dunia enterpreneur agaknya jarang yang punya nyali utk melakukan perubahan. doh!

Blogger said... 12:28 AM

Which is better Pepsi or Coke?
ANSWER THE POLL and you could receive a prepaid VISA gift card!

Blogger said... 3:57 AM

If you are looking for an excellent contextual ad network, I recommend that you check out Chitika.